Big Five Personality
Di era yang moderen ini, tidaklah mungkin dapat dicapai tanpa kehadiran
institusi pendidikan sebagai organisasi yang menyelenggarakan pendidikan secara
formal. Syaparuddin & Nasution (2000), mengatakan bahwa kegiatan pendidikan yang
berlangsung sekarang ini menempatkan
institusi ini sebagai salah satu institusi sosial yang tetap eksis sampai
sekarang. penulis, Pendidikan
merupakan sarana bagi seseorang dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya
manusia (Tilaar, 2006). Lebih lanjut, pendidikan yang memadai akan membantu seseorang mempunyai
kesempatan dalam memperbaiki kehidupannya dan menjadi lebih terbuka dan
realistis dalam menerima berbagai inovasi, memperlebar cakrawala ilmu dan
mempertajam pemahaman akan berbagai fenomena kehidupan. Proses
pendidikan yang berlangsung, mempunyai ukuran standarisasi dalam menilai sejauh
mana pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa sudah tercapai.
Mahasiswa
dalam kaitannya dengan dunia pendidikan merupakan salah satu subtansi yang
perlu diperhatikan, mahasiswa merupakan penerjemah terhadap dinamika
ilmu pengetahuan dan melaksanakan tugas mendalami ilmu pengetahuan tersebut
(Harahap, 2006). Mahasiswa secara umum
merupakan subjek yang memiliki potensi untuk mengembangkan pola kehidupannya
dan sekaligus menjadi objek dalam keseluruhan bentuk aktivitas dan
kreativitasnya, sehingga diharapkan mampu menunjukkan kualitas daya yang
dimilikinya (Baharuddin & Makin, 2004). Seorang mahasiswa tugas utama, yaitu belajar, karena kedudukan seorang mahasiswa di
kampus membawa implikasi bahwa mahasiswa adalah seorang akademisi, pemikir,
bergerak secara logis dan terukur. Kemudian kualitas intelektual mahasiswa
terukur lewat nilai-nilai dari mata kuliah yang ditempuh.
"Suatu keberhasilan mahasiswa di dalam institusi pendidikan terlihat dari seberapa jauh pemahaman secara holistik akan suatu keilmuan yang diterjemahkan dalam bentuk angka keberhasilan yang sudah terstandar." Dengan kata lain, keberhasilan mahasiswa itu adalah prestasi akademik.
Dalam
melihat derajat keberhasilan seorang mahasiswa di perguruan tinggi, diperlukan
suatu standar ukuran keberhasilan. Menurut Peraturan Penyelenggaraan Kegiatan Akademik Dalam Sistem Kredit
Semester UKSW Tahun 2009, standar ukuran keberhasilan mahasiswa diberikan
dalam bentuk huruf mutu, yaitu: A, AB, B, BC, C, CD, D dan E yang berkisar
setara dengan angka kualitas 4 sampai 0 per SKS. Derajat keberhasilan mahasiswa
pendidikan Diploma/Sarjana dalam setiap semester dinyatakan dengan Indeks
Prestasi Semester (IP Semester), dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) untuk
derajat keberhasilan keseluruhan yang telah dicapai. Indeks Prestasi mahasiswa, menunjukkan derajat keberhasilan dalam memenuhi tugas
sebagai seorang akademisi dan disebut juga sebagai prestasi akademik. Dengan
kata lain prestasi akademik
merupakan suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa dalam
mencapai tujuan belajar setelah melakukan proses belajar dari suatu program
yang telah ditentukan.
Prestasi akademik merupakan hasil
belajar mahasiswa yang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (Winkel, 1997:
- Faktor Internal (pribadi) Berasal dari dalam diri mahasiswa yang meliputi: inteligensi, motivasi dan kepribadian
- Faktor Eksternal (Lingkungan) Berasal dari luar diri mahasiswa, yaitu lingkungan yang meliputi: lingkungan rumah dan lingkungan sekolah.
Pengenalan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik diperlukan untuk memahami keberhasilan akan studi mahasiswa di perguruan tinggi. Pemahaman yang holistik terhadap faktor kepribadian setiap individu, diharapkan dapat bermanfaat pada setiap mahasiswa dalam pengembangan diri terkait dengan keberhasilan mahasiswa di institusi pendidikan.
Banyak riset yang menghubungkan antara faktor
kepribadian mahasiswa dengan prestasi akademik. Hasil penelitian Lusiana (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara
tipe kepribadian dengan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran
angkatan 2006 Universitas Riau, tipe kepribadian A merupakan tipe kepribadian
yang mendukung prestasi akademik mahasiswa tersebut. Dari penelitian tersebut
didapatkan bahwa tipe kepribadian A adalah 1,83 kali lebih besar untuk
memperoleh prestasi akademik yang sangat memuaskan dibanding tipe kepribadian B
dan tipe kepribadian A memiliki peluang 2,17 kali lebih besar untuk memperoleh
prestasi akademik dangan sangat memuaskan dibandingkan tipe kepribadian AB.
Kemudian
temuan lainnya dari hasil penelitian Deasyana (2008) melakukan penelitian tentang faktor kepribadian dan
hubungannya dengan prestasi belajar. Deasyana menggunakan teori Five Factor Model milik McCrae dan Costa
(1992) yang merupakan salah satu teori yang membahas tentang
kepribadian. Deasyana menemukan bahwa faktor kepribadian memiliki hubungan
dengan prestasi belajar. Lebih lanjut, Deasyana menjelaskan bahwa faktor
kepribadian Conscientiousness merupakan
satu-satunya prediktor yang signifikan pada prestasi belajar.
Kepercayaan
diri yang tinggi dan faktor kepribadian mahasiswa yang berorientasi prestasi (Foster, 1998) serta kecakapan menahan diri/self-control
(Wolfe & Johnson, 1995) berhubungan dengan prestasi akademik. Mahasiswa
cenderung perfeksionis tetapi adaptif condong menyesuaikan diri
lebih memuaskan sehingga gigih berupaya menyelesaikan studi tepat waktu
(Rice & Mirzadeh, 2000). Faktor
kepribadian mahasiswa diduga berdaya-ramal/prediktif terhadap prestasi akademik dan kecepatan penyelesaian
studi (Tross dkk, 2000).
Faktor
kepribadian seperti “The Big Five”
berhubungan dengan kajian tentang segi-segi kepribadian melalui inventori kepribadian (Padmomartono, 2010), yang
mengukur 5 faktor kepribadian yang di dalam tiap faktor tercakup traits/sifat
kepribadian. Trait adalah kualitas individual yang stabil serta mencirikan
orang dari orang yang lainnya. Trait merangkum,
meramalkan dan mendeskripsikan tindakan individu, menggambarkan
disposisi, yaitu pola perilaku yang melintas batas berbagai situasi
serta melampaui rentang waktu panjang. Digman (dalam Popkins, 2001) menyatakan
riset faktor kepribadian “The Big Five” membantu mencirikan perbedaan individual yang
memberi jawaban struktur kepribadian mahasiswa yang perlu diperhitungkan
dalam keberhasilan
studi mahasiswa.
Komarraju (2009) yang meneliti peran “The Big Five” dalam memprediksi motivasi
dan prestasi akademik mahasiswa,
mengemukakan bahwa trait kepribadian menjelaskan 14% dari varians dalam
hubungannya dengan IPK dengan neuroticism, agreeableness, dan conscientiousness sebagai prediktor
yang signifikan.
"Salah satu faktor big five, Conscientiousness merupakan prediktor terbaik dalam menjelaskan kaitan antara kepribadian dengan keberhasilan mahasiswa di institusi pendidikan. Mahasiswa dengan skor kepribadian conscientiousness yang tinggi akan cenderung mengendalikan situasi kelas, berpikir dan bertindak secara teratur dan terorganisir, mengerjakan tugas dengan cermat dan hati-hati dan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dalam memprioritaskan tugas yang harus diselesaikan sehingga berdampak pada meningkatnya angka keberhasilan mahasiswa."
Menurut Hakimi (2011) dalam penelitiannya tentang
hubungan traits kepribadian dengan prestasi akademik mahasiswa, mengemukakan bahwa trait kepribadian
menyumbang sebesar 48% dari varian dalam hubungannya dengan prestasi akademik.
Dalam penelitiannya, Hakimi mengungkapkan faktor conscientiousness menjelaskan 39 persen dari varians dalam prestasi
akademik dan temuan ini menegaskan hipotesis penelitian yang konsisten dengan
penelitian lain mengingat conscientiousness
sebagai prediktor paling dapat diandalkan dalam kinerja akademik, Wagerman
& Funder (dalam Hakimi, 2011). Kemudian disusul faktor extraversion
menyumbang 6,8 persen dari varians dalam prestasi akademik dengan hubungan yang
negatif antara extraversion dan prestasi akademik. Hal ini dikarenakan orang
dengan skor extraversion lebih cenderung menjadi sabar, impulsif pada
pemecahan masalah, suka bicara, membingungkan dan termotivasi dari luar, dan
dengan demikian mereka lebih rentan untuk menurunkan prestasi akademik. Extraversion
terkait dalam menurunkan prestasi akademik pada tingkat pendidikan yang lebih
tinggi, terutama di universitas, hal ini dapat disebabkan oleh kurang penekanan
pada hubungan sosial dan lebih pada persaingan di tingkat pendidikan tinggi
(Dunsmore, 2005). Lebih lanjut faktor neuroticism menyumbang 2,4 persen dari varians dalam prestasi
akademik dengan hubungan yang negatif, karena neuroticism disertai dengan kecemasan dan ketakutan, keraguan
dan masalah lain yang melemahkan kinerja akademik pada pelajar yang menderita
gangguan ini. Tetapi Hakimi tidak memasukkan faktor agreeableness dan openness to experience dalam analisis, karena faktor-faktor ini tidak
memberikan kontribusi untuk memprediksi prestasi akademik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar