Follow me

Minggu, 27 September 2015

Keterkaitan antara Kepribadian dengan Prestasi Akademik Mahasiswa di Institusi Pendidikan


Big Five Personality

Di era yang moderen ini, tidaklah mungkin dapat dicapai tanpa kehadiran institusi pendidikan sebagai organisasi yang menyelenggarakan pendidikan secara formal. Syaparuddin & Nasution (2000), mengatakan bahwa kegiatan pendidikan yang berlangsung sekarang ini  menempatkan institusi ini sebagai salah satu institusi sosial yang tetap eksis sampai sekarang.  penulis, Pendidikan merupakan sarana bagi seseorang dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Tilaar, 2006). Lebih lanjut, pendidikan yang memadai akan membantu seseorang mempunyai kesempatan dalam memperbaiki kehidupannya dan menjadi lebih terbuka dan realistis dalam menerima berbagai inovasi, memperlebar cakrawala ilmu dan mempertajam pemahaman akan berbagai fenomena kehidupan. Proses pendidikan yang berlangsung, mempunyai ukuran standarisasi dalam menilai sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa sudah tercapai. 
Mahasiswa dalam kaitannya dengan dunia pendidikan merupakan salah satu subtansi yang perlu diperhatikan, mahasiswa merupakan penerjemah terhadap dinamika ilmu pengetahuan dan melaksanakan tugas mendalami ilmu pengetahuan tersebut (Harahap, 2006). Mahasiswa secara umum merupakan subjek yang memiliki potensi untuk mengembangkan pola kehidupannya dan sekaligus menjadi objek dalam keseluruhan bentuk aktivitas dan kreativitasnya, sehingga diharapkan mampu menunjukkan kualitas daya yang dimilikinya (Baharuddin & Makin, 2004). Seorang mahasiswa tugas utama, yaitu belajar, karena kedudukan seorang mahasiswa di kampus membawa implikasi bahwa mahasiswa adalah seorang akademisi, pemikir, bergerak secara logis dan terukur. Kemudian kualitas intelektual mahasiswa terukur lewat nilai-nilai dari mata kuliah yang ditempuh.
"Suatu keberhasilan mahasiswa di dalam institusi pendidikan terlihat dari seberapa jauh pemahaman secara holistik akan suatu keilmuan yang diterjemahkan dalam bentuk angka keberhasilan yang sudah terstandar." Dengan kata lain, keberhasilan mahasiswa itu adalah prestasi akademik.
Dalam melihat derajat keberhasilan seorang mahasiswa di perguruan tinggi, diperlukan suatu standar ukuran keberhasilan. Menurut Peraturan Penyelenggaraan Kegiatan Akademik Dalam Sistem Kredit Semester UKSW Tahun 2009, standar ukuran keberhasilan mahasiswa diberikan dalam bentuk huruf mutu, yaitu: A, AB, B, BC, C, CD, D dan E yang berkisar setara dengan angka kualitas 4 sampai 0 per SKS. Derajat keberhasilan mahasiswa pendidikan Diploma/Sarjana dalam setiap semester dinyatakan dengan Indeks Prestasi Semester (IP Semester), dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) untuk derajat keberhasilan keseluruhan yang telah dicapai. Indeks Prestasi mahasiswa, menunjukkan derajat keberhasilan dalam memenuhi tugas sebagai seorang akademisi dan disebut juga sebagai prestasi akademik. Dengan kata lain prestasi akademik merupakan suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar setelah melakukan proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan.
Prestasi akademik merupakan hasil belajar mahasiswa yang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (Winkel, 1997
  1. Faktor Internal (pribadi)                                                                                                                  Berasal dari dalam diri mahasiswa yang meliputi: inteligensi, motivasi dan kepribadian
  2. Faktor Eksternal (Lingkungan)                                                                                                       Berasal dari luar diri mahasiswa, yaitu lingkungan yang meliputi: lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. 

Pengenalan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik diperlukan untuk memahami keberhasilan akan studi mahasiswa di perguruan tinggi. Pemahaman yang holistik terhadap faktor kepribadian setiap individu, diharapkan dapat bermanfaat pada setiap mahasiswa dalam pengembangan diri terkait dengan keberhasilan mahasiswa di institusi pendidikan.
Banyak riset yang menghubungkan antara faktor kepribadian mahasiswa dengan prestasi akademik. Hasil penelitian Lusiana (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara tipe kepribadian dengan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2006 Universitas Riau, tipe kepribadian A merupakan tipe kepribadian yang mendukung prestasi akademik mahasiswa tersebut. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa tipe kepribadian A adalah 1,83 kali lebih besar untuk memperoleh prestasi akademik yang sangat memuaskan dibanding tipe kepribadian B dan tipe kepribadian A memiliki peluang 2,17 kali lebih besar untuk memperoleh prestasi akademik dangan sangat memuaskan dibandingkan tipe kepribadian AB.
Kemudian temuan lainnya dari hasil penelitian Deasyana (2008) melakukan penelitian tentang faktor kepribadian dan hubungannya dengan prestasi belajar. Deasyana menggunakan teori Five Factor Model milik McCrae dan Costa (1992) yang merupakan salah satu teori yang membahas tentang kepribadian. Deasyana menemukan bahwa faktor kepribadian memiliki hubungan dengan prestasi belajar. Lebih lanjut, Deasyana menjelaskan bahwa faktor kepribadian Conscientiousness merupakan satu-satunya prediktor yang signifikan pada prestasi belajar.
Keper­ca­yaan diri yang tinggi dan faktor kepribadian mahasiswa yang berorien­tasi prestasi (Foster, 1998) serta kecakapan mena­han diri/self-control (Wolfe & Johnson, 1995) berhubungan dengan prestasi akademik. Maha­­siswa cenderung perfeksionis tetapi adaptif condong me­nye­suai­kan diri lebih memu­askan sehingga gigih ber­upaya me­nye­le­saikan studi tepat waktu (Rice & Mirzadeh, 2000). Faktor kepriba­dian maha­siswa diduga berdaya-ramal/prediktif terhadap prestasi aka­demik dan kecepatan pe­nye­lesaian studi (Tross dkk, 2000).
Faktor kepribadian seperti “The Big Five” berhubungan dengan kajian tentang segi-segi kepri­badian melalui inventori ke­pri­ba­dian (Padmomartono, 2010), yang mengukur 5 faktor kepribadian yang di dalam tiap faktor ter­cakup traits/sifat kepribadian. Trait adalah kualitas individual yang stabil serta men­ciri­kan orang dari ­orang yang lainnya. Trait me­rang­kum, meramalkan dan mendeskrip­si­kan tin­dakan individu, menggambar­kan disposisi, yaitu pola perilaku yang melintas batas berbagai situasi serta melampaui ren­tang waktu panjang. Digman (dalam Popkins, 2001) menya­takan riset faktor kepribadian “The Big Fivemembantu mencirikan perbedaan individual yang memberi jawaban struktur kepriba­dian mahasiswa yang perlu diperhi­tungkan dalam keberhasilan studi mahasiswa.
Komarraju (2009) yang meneliti peran The Big Five” dalam memprediksi motivasi dan prestasi akademik mahasiswa, mengemukakan bahwa trait kepribadian menjelaskan 14% dari varians dalam hubungannya dengan IPK dengan neuroticism, agreeableness, dan conscientiousness sebagai prediktor yang signifikan.
"Salah satu faktor big five, Conscientiousness merupakan prediktor terbaik dalam menjelaskan kaitan antara kepribadian dengan keberhasilan mahasiswa di institusi pendidikan. Mahasiswa dengan skor kepribadian conscientiousness yang tinggi akan cenderung mengendalikan situasi kelas, berpikir dan bertindak secara teratur dan terorganisir, mengerjakan tugas dengan cermat dan hati-hati dan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dalam memprioritaskan tugas yang harus diselesaikan sehingga berdampak pada meningkatnya angka keberhasilan mahasiswa."   
Menurut Hakimi (2011) dalam penelitiannya tentang hubungan traits kepribadian dengan prestasi akademik mahasiswa, mengemukakan bahwa trait kepribadian menyumbang sebesar 48% dari varian dalam hubungannya dengan prestasi akademik. Dalam penelitiannya, Hakimi mengungkapkan faktor conscientiousness menjelaskan 39 persen dari varians dalam prestasi akademik dan temuan ini menegaskan hipotesis penelitian yang konsisten dengan penelitian lain mengingat conscientiousness sebagai prediktor paling dapat diandalkan dalam kinerja akademik, Wagerman & Funder (dalam Hakimi, 2011). Kemudian disusul faktor extraversion menyumbang 6,8 persen dari varians dalam prestasi akademik dengan hubungan yang negatif antara extraversion dan prestasi akademik. Hal ini dikarenakan orang dengan skor extraversion lebih cenderung menjadi sabar, impulsif pada pemecahan masalah, suka bicara, membingungkan dan termotivasi dari luar, dan dengan demikian mereka lebih rentan untuk menurunkan prestasi akademik. Extraversion terkait dalam menurunkan prestasi akademik pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, terutama di universitas, hal ini dapat disebabkan oleh kurang penekanan pada hubungan sosial dan lebih pada persaingan di tingkat pendidikan tinggi (Dunsmore, 2005). Lebih lanjut faktor neuroticism menyumbang 2,4 persen dari varians dalam prestasi akademik dengan hubungan yang negatif, karena neuroticism disertai dengan kecemasan dan ketakutan, keraguan dan masalah lain yang melemahkan kinerja akademik pada pelajar yang menderita gangguan ini. Tetapi Hakimi tidak memasukkan faktor agreeableness dan openness to experience dalam analisis, karena faktor-faktor ini tidak memberikan kontribusi untuk memprediksi prestasi akademik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar